Orangutan di kebun binatang Indonesia merokok

Shirley, orangutan di Johor Malaysia saat ini dikarantina untuk mencegah rokok Orangutan di kebun binatang Indonesia hampir semuanya merokok karena pemberian pengunjung dan tanpa ada larangan dari petugas penjaga, menurut seorang pakar konservasi.

Airbus Military : PTDI Kompeten, Kerjasama Bersifat Jangka Panjang

Kolaborasi Airbus Military (AM), sebelumnya CASA, dengan PTDI telah melahirkan produk NC- 295, sebuah pesawat angkut militer taktis bermesin turboprop ganda.

Menang Lagi, Stoner Dekati Tangga Juara

Casey Stoner masih sulit dikejar lawan-lawannya dan kian dekat ke tangga juara dunia. Pembalap Australia dari tim Repsol Honda itu menang mudah di balapan MotoGP Aragon, Minggu (18/9/2011)

11 Juta Kondom Cina Ditolak Masuk Afsel Karena Ukuran Terlalu Kecil

Pengadilan Afrika Selatan memutuskan agar pemerintah setempat menolak mengedarkan kondom asal Cina. Gara-garanya kondom buatan Cina terlalu kecil untuk ukuran penis orang Afrika.

Freeport berpotensi rugi US$19 juta, akibat mogok

Pemogokan karyawan di perusahaan tambang PT Freeport berpotensi merugikan perusahaan sebesar US$19 juta atau sekitar Rp114 miliar per hari. Karyawan Freeport kembali mogok, setelah pemogokan yang pertama Juli lalu.

Selasa, 19 Juli 2011

Obat Kumur Oral-B Kena Bakteri, P&G Tarik Produknya di RI (detikHealth)

Perusahaan multinasional Amerika Serikat, Procter & Gamble alias P&G telah menarik lima jenis obat kumurnya dari peredaran di Kolombia dan Kanada. Penarikan mouthwash dengan merek dagang Oral-B tersebut dikarenakan adanya kontaminasi bakteri. P&G juga sudah menarik produknya di Indonesia.

Otoritas kesehatan Kolombia mengkonfirmasi penarikan produk P&G tersebut seperti diberitakan kantor berita AFP, Selasa (19/7/2011).

Obat kumur Oral-B tersebut diproduksi di Kolombia. Menurut badan Institut Pengawasan Obat dan Makanan Nasional Colombia atau INVIMA, produk tersebut tercemar dengan mikro-organisme Burkholderia anthina.

"Sudah lapor ke kita (P&G), melakukan penarikan sukarela hari Jumat kemarin," ujar Deputi bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Ruslan Aspan ketika dikonfirmasi detikcom, Selasa (19/7/2011).

Ruslan menambahkan, spesifikasi produk Oral-B yang ada cemaran mikro-organisme Burkholderia anthina ini tidak dikirim ke Indonesia, melainkan kepada 4 negara yakni Argentina, Brasil, Chili dan Meksiko. Oral-B yang diimpor ke Indonesia, juga diproduksi di Kolombia.

"Namun spec yang ada cemaran bakterinya tidak ada di Indonesia. Yang ditarik ada 2 jenis Oral-B, yang biasa dan yang alcohol free," imbuhnya.

Ruslan menuturkan, menurut data BPOM, sejak Desember 2010-Januari 2011 ada sekitar 80 ribu botol obat kumur Oral B yang diimpor ke Indonesia. Impor obat kumur Oral B, imbuhnya sampai bulan Juli 2011.

"Masih ditahan di gudang mereka," tuturnya.

Sebelumnya P&G menarik obat kumur Oral-B tersebut yang diproduksi di Kolombia. Menurut badan Institut Pengawasan Obat dan Makanan Nasional Kolombia atau INVIMA, produk tersebut tercemar dengan mikro-organisme Burkholderia anthina.

Dikatakan INVIMA, mikro-organisme tersebut sebenarnya tidak berisiko membahayakan kesehatan manusia. Namun bisa menimbulkan efek samping bagi orang-orang dengan kekebalan tubuh yang lemah. Meski sejauh ini, belum ada masalah yang dilaporkan dari pemakaian produk tersebut. Penarikan ini lebih sebagai langkah pencegahan.

INVIMA menyatakan, penarikan produk tersebut juga dilakukan di negara-negara lain di mana obat kumur tersebut diperdagangkan. Sebelumnya pada 14 Juli lalu, P&G juga telah mengeluarkan rilis mengenai penarikan 2 jenis obat kumur Oral-B dari pasaran di Kanada.

Produk-produk yang ditarik tersebut adalah: Oral-B Anti-Cavity Dental Rinse-Alcohol Free (NPN 02129930) dan Oral-B Anti-Bacterial with Fluoride-Alcohol Free Daily Use Mouthrinse (DIN 02130823).

Sabtu, 16 Juli 2011

Mozart Bisa Hidup Lebih Lama Jika Sering Kena Matahari (detikHealth)

Komponis yang menciptakan mahakarya Sonata in A Minor, Wolfgang Amadeus Mozart mati muda karena 'Vitamin D Minor'. Maksudnya, Mozart diyakini bisa hidup lebih lama seandainya sering kena matahari sehingga tidak kekurangan vitamin D.

Dugaan itu didasari oleh fakta bahwa komponis yang meninggal di usia 35 tahun ini hidup di Austria, salah satu wilayah paling gelap di Eropa. Di wilayah ini, malam hari berlangsung lebih lama dari siang hari sehingga warganya tidak cukup mendapat sinar matahari.

Tidak hanya itu, berbagai literatur mengatakan bahwa Mozart juga lebih suka bergadang untuk menciptakan karya pada malam hari. Pada siang hari, ia menghabiskan sebagian waktunya untuk beristirahat di dalam rumah sehingga nyaris tidak pernah kena sinar matahari.

Padahal, sinar matahari khususnya sinar ultraviolet B (UVB) merupakan komponen yang sangat penting dalam pembentukan Vitamin D di dalam tubuh. Seseorang yang jarang kena matahari akan kekurangan vitamin D sehingga daya tahan tubuhnya akan menurun.

Konsekuensi ini dialami oleh Mozart, yang di masa hidupnya mengalami begitu banyak gangguan kesehatan. Hampir semua penyakit pernah dideritanya mulai dari radang tenggorokan, tonsilitis, campak, demam tifoid hingga yang parah seperti gangguan fungsi ginjal.

"Hampir semua penyakit yang diderita Mozart berhubungan dengan vitamin D. Andai di masa itu ia sudah tahu tentang vitamin D dan bisa mendapatkannya melalui suplemen, mungkin umurnya bisa lebih panjang," ungkap Dr Grant seperti dikutip dari Dailymail, Minggu (17/7/2011).

Bukan cuma Mozart, diduga ada banyak musisi lain yang juga meninggal karena kekurangan vitamin D. Di antaranya pemain cello asal Inggris, Jacqueline Mary du Pre yang meninggal pada 1987 di usia 42 tahun serta komponis asal Austria, Gustav Mahler yang meninggal pada 1911 di usia 51 tahun.

Bagaimanapun, dugaan dr Grant yang dipublikasikan dalam tulisan berjudul Medical Problems of Performing Artists ini hanya sebatas spekulasi. Sejak meninggal hingga dimakamkan tahun 1791, jenazah Mozart tidak pernah diotopsi untuk mengungkap penyebab pasti kematiannya.

Jumat, 15 Juli 2011

Belum Premiere, Tiket 'Harry Potter 7' Terjual $25 Juta (detikHot)

'Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2' baru akan premiere di Amerika Serikat dan Kanada, Jumat (15/7/2011) akhir pekan ini. Namun, sejak Selasa (12/7/2011) tiket sudah terjual senilai $25 juta!

Pihak Warner Bros menjelaskan, tiket yang dijual secara online tersebut diharapkan akan tembus $31 juta pada saat premiere besok. Calon penonton sebagian besar membeli tiket melalui aplikasi pada telepon genggam mereka. Demikian dilansir Contactmusic, Rabu (13/7/2011).

Warner Bros juga memprediksi, pada tiga hari pertama pemutarannya penjualan tiket akan menembus $130-140 juta. Rekor akan terpecahkan jika penggemar memilih menonton versi 3D yang harga tiketnya lebih mahal.

Rekor sebelumnya dipegang oleh sekuel Batman, 'The Dark Knight' pada 2008. 'The Dark Knight' menembus angka $158 juta pada 3 hari pertama. 'Harry Potter 7' akan bisa menembus rekor ini jika setengah dari penonton menonton versi 3D.

Sementara itu, penggemar Harry Potter di Indonesia masih diresahkan dengan ketidakpastian tanggal tayang di Indonesia. Seharusnya sekuel terakhir dari Harry Potter itu mulai tayang di Indonesia 13 Juli.

'Harry Potter 7' Diusahakan Segera Tayang di Indonesia (detikHot)

Para penggemar 'Harry Potter' masih harap-harap cemas menunggu kepastian pemutaran 'Harry Potter and the Deathly Hallows II' di bioskop Indonesia. Menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Johny Syafrudin, kisruh soal pajak film impor sudah menemukan sedikit titik terang.

"Sudah ada penyelesaian. Diusahakan secepatnya (bisa tayang di bioskop Indonesia)," ujarnya kepada detikhot, Rabu (13/7/2011).

Johnny menambahkan, pemerintah akan menunda untuk mengenakan pajak royalti 10% film impor selama dua tahun ke depan. Keputusan tersebut diambil agar para penikmat film Indonesia bisa kembali menyaksikan film-film Hollywood.

"Tinggal menunggu resminya dari pemerintah. Kalau pembicaraan, sudah menemukan titik temu," tambahnya.

'Harry Potter and the Deathly Hallows II' telah diputar perdana di Trafalgar Square, London, Inggris pada 7 Juli lalu. Sementara di Singapura, film yang dibintangi Daniel Radcliffe, Rupert Grint dan Emma Watson itu dijadwalkan tayang pada 14 Juli 2011

Filipina Melarang Tokek Sebagai Obat AIDS dan Lemah Syahwat (detikHealth)

Manila, Seperti yang terjadi di Indonesia beberapa waktu lalu, warga Filipina kini juga keranjingan tokek yang dianggap sebagai obat alternatif serba guna. Saking manjurnya, banyak yang meyakini tokek bisa mengobati AIDS dan lemah syahwat.

Saat ini, harga tokek di Filipina tengah meroket karena banyak yang ingin membeli binatang ini sebagai obat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Satu ekor tokek berukuran 300 gram misalnya, harganya bisa mencapai 50.000 peso atau sekitar Rp 9,9 juta.

Pemburu tokek dadakan banyak bermunculan karena selain laku di dalam negeri, tokek Filipina juga diekspor ke China, Malaysia dan Korea Selatan. Warga di negara-negara ini meyakini tokek sebagai obat mujarab untuk Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) dan impotensi.

Namun demikian, pemerintah Filipina melalui departemen kesehatan memperingatkan bahwa khasiat tersebut belum pernah dibuktikan secara ilmiah. Selain belum tentu manjur, dikhawatirkan tokek justru leih banyak memberikan dampak negatif bagi pasien yang mengonsumsinya.

"Tokek bisa memperburuk kesehatan secara keseluruhan dan membuat mereka (para pasien) berada dalam risiko tinggi," tulis departemen kesehatan Filipina seperti dikutip dari Philipine Star, Jumat (15/7/2011).

Tidak dijelaskan lebih detail risiko apa yang dimaksud, namun yang jelas saat ini sudah banyak tersedia obat lain yang lebih aman untuk mengatasi impotensi. Sementara untuk AIDS memang belum ada obat untuk menyembuhkannya, namun sudah bisa dikontrol agar tidak menyebabkan kematian.

Selain membahayakan pasien, konsumsi tokek secara besar-besaran juga bisa membahayakan lingkungan. Salah seorang pejabat lingkungan hidup di Filipina, Mundita Lim mengatakan menurunnya populasi tokek bisa menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem.

"Di alam, tokek memangsa serangga. Spesies tertentu yang ukurannya lebih besar bahkan mampu memakan burung dan tikus yang merupakan hama bagi petani," ungkap Lim.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More